Krakkk... Jarum mesin jahit menancap di kuku jari
telunjukku yang lelah. Darah yang merah pun mulai mengucur bagai tumpahan air
wudhu. Aku meniup jari mungil yang malang itu. Hampir saja aku meneteskan air
mata di pipi.
Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un, aku tidak boleh lemah. Aku ingin menjadi
seorang guru. Butuh jiwa yang kuat untuk menjadi seorang pahlawan tanpa tanda
jasa.
Kuberlari mencari Betadine.
Semua ruangan telah kujelajahi, namun tak kunjung aku menemukannya. Lalu
kuputuskan untuk merebahkan tubuh di tikar yang selalu aku rindukan itu.
Kutatap kaki yang selalu menghasilkan belasan baju setiap harinya, kaki yang
selalu lelah setiap malamnya, kaki yang In
sya’ Allah akan mengantarkanku menuju kesuksesan. Seakan tak sanggup
lagi untuk menatap, mataku pun mulai terpejam bersama tumpahan darah di jariku.
Matahari mulai menampakkan sinarnya. Aku sudah
bersiap-siap pergi ke pasar untuk membeli benang dan jarum. Selangkah demi
selangkah aku menuju pinggir jalan raya untuk menunggu angkot yang mengantar
menuju pasar tradisional. Sembari menunggu angkot, aku melamun memikirkan
pendidikanku yang harus terhenti karena tiada ada biaya.
Sesungguhnya
aku ingin kuliah. Aku ingin menjadi seorang guru. Menjadi guru itu pasti sangat
menyenangyakan dan tidak akan merasa kesepian. Akan ada siswa-siswi yang
senantiasa mengukir canda dan tawa disetiap hariku.
Tiiinnn... tiiinnn... Suara angkot berhenti tepat di
depan mataku, membangunkan lamunan kecil yang bergejolak itu. Aku segera naik
tanpa menghiraukan lanjutan lamunanku. Betapa senang hatiku, di dalam angkot
aku melihat dua orang teman sekolahku yang penampilannya berubah drastis.
Mereka terlihat lebih cantik. Mereka pun sangat senang bertemu denganku.
“Dina, kamu kuliah di mana?” tanya Asti.
“Mmm... Aku tidak kuliah, Ti” jawabku sambil menunduk
dan menyembunyikan hati yang mulai tergores.
“Oh kamu tidak kuliah ya, kami sekarang kuliah di
Palembang. Kami tinggal bersama di suatu rumah yang disewakan di dekat kampus
kami”
“Kalian beruntung sekali bisa kuliah di kampus dan
rumah yang sama, pasti seru sekali. Kalian pasti selalu senang.”
“Hahaha... Senang dari Hongkong? Kuliah itu tak sama
seperti sekolah. Akan ada tumpukan tugas yang menunggu setiap harinya membuat kita lupa akan tidur” jawab Yanti.
Aku hanya bisa tersenyum, tak mampu membayangkan
seperti apa tugas yang mereka dapatkan. Tiba-tiba angkot pun berhenti di
terminal, semua penumpang pun turun secara tertib. Kedua temanku yang cantik
itu tersenyum padaku dan mulai melangkah cepat seakan-akan sedang dikejar
waktu. Tak mau terlihat berbeda dari mereka, aku pun berlari menuju toko
tujuanku.
Tatkala cuaca mulai terik. Aku pergi ke kamar untuk menyusun
baju-baju yang telah aku jahit lalu menyusunnya di dalam kantong plastik
berwarna hitam. Baju itu harus aku antarkan ke rumah pemiliknya hari ini juga.
Setelah selesai, sambil tersenyum merasa lega aku memeriksa saku celana. Dan
betapa terkejutnya aku ketika menyadari dompet unguku tidak ada. Aku berusaha
tetap tenang sambil mencari-cari dompet ungu di sekitar mesin jahitku.
Aku
lupa dimana aku meletakkannya? Tadi yang pasti dompet itu ada di kamarku.
Semua sudut kamar telah aku telusuri. Sekarang giliran
lemari yang aku tuju, namun dompet ungu tak jua aku temukan. Lalu kuputuskan
untuk merebahkan tubuhku di tikar untuk sesaat. Kupandang langit-langit dan
semua sisi kamarku. Wajahku seketika menjadi ceria lagi, di bawah lemari aku
melihat ada dompetku. Tanpa menunda lagi, aku cepat-cepat mengulurkan tangan ke
bawah lemari. Ada banyak sekali benda yang aku dapatkan di bawah lemari itu.
Tak hanya dompet dan debu, bahkan gulungan benang yang belum terpakai, kertas,
dan sisa-sisa kain juga aku ambil. Aku meletakkan gulungan benang dan kertas
itu di atas tempat tidurku. Sementara sisa-sisa kain langsung kubuang di kotak
sampah. Setelah membersihkannya, aku bergegas menunggu angkot untuk
mengantarkan baju kepada pemiliknya.
Setelah pulang, perutku merasa lapar. Aku pergi ke
dapur dan mulai memakan masakan ibuku. Ibu sangat memahami cita-citaku. Setiap
hari aku sibuk mencari uang untuk bisa kuliah. Namun, ibu tak pernah mengeluh
walau aku jarang membantunya untuk menyiapkan makanan.
“Nak, ibu selalu berdoa agar kamu bisa meraih
cita-citamu. Jangan pernah merasa putus asa. Terkadang kita harus merelakan
kebahagiaan-kebahagiaan kecil demi mendapatkan kebahagiaan yang amat besar.”
“Terima kasih, Bu” jawabku sambil tersenyum lebar.
Tumpukan kain berwarna-warni menghiasi lantai kamarku.
Aku melanjutkan pekerjaanku dengan senang hati. Siang dan malam aku
menggoyangkan kaki kecilku demi bisa kuliah. Sebenarnya aku merasa sangat
kecewa pada diriku sendiri. Sejak duduk di bangku SD, aku selalu mendapatkan
juara. Bahkan ketika duduk di bangku SMP dan SMA pun selalu menjadi juara umum
di sekolahku. Uang beasiswa yang selalu aku terima seolah menjadi bukti betapa
layaknya aku untuk selalu melanjutkan pendidikan.
Tatkala malam telah tiba, hujan yang rintik-rintik
mempersembahkan suara khas dari atap rumahku. Suara katak saling
bersahut-sahutan memanggil hujan. Kakiku sepertinya sudah tak sanggup untuk
digerakkan, tapi tetap saja aku melangkah menuju jendela. Aku penasaran ingin melihat
keadaan di luar kamarku. Jendela kayu yang berlobang karena rayap kubuka secara
hati-hati. Wuuuussshhh... Angin malam menerpa wajahu dan sekejap menghilangkan
rasa lelah dan kantukku. Kulihat tanah yang becek dan kuhirup udara basah.
Sepertinya malam ini akan turun hujan lebat. Kilat-kilat mulai menyambar
membuatku segera menutup jendela itu.
Mata ini mulai mengantuk, aku pun berbaring. Ada
sesuatu benda yang membuat kepalaku terasa sakit. Ternyata gulungan benang dan
sejumlah lipatan-lipatan kertas kusam. Aku menyimpan gulungan benang itu di
dalam laci mesin jahitku. Kemudian aku berbaring lagi dan mulai membuka
lipatan-lipatan dari secarik kertas.
Entah
apa yang bisa aku lalukan selain menangis.
Aku
kesal, aku benci, aku kecewa.
Mengapa
aku tidak lulus SNMPTN dan SBMPTN???
Apa karena aku miskin?
Apa
karena tak ada lagi yang bersedia memberikanku beasiswa???
Tulisan yang aku tulis beberapa bulan yang lalu itu seolah
memaksa untuk mengingat kejadian yang amat menyakitkan hati kecilku. Aku
berusaha melupakan kejadian itu. Lalu membuka dua kertas yang lainnya. Kedua
kertas itu merupakan kartu SNMPTN dan kartu tanda peserta SBMPTN. Aku tersenyum
tertahan dan memejamkan mata tanpa menghiraukan rasa sakit hati yang mulai
muncul kembali. Dua jam telah berlalu, aku memang memejamkan mata. Namun aku
tidak tidur. Bayang-bayang usaha belajar dan uang ratusan ribu yang aku
keluarkan demi mendaftar SBMPTN mulai menghantuiku. Kala itu aku menginap di
rumah temanku yang bernama Indah. Dia sangat tulus mengantar dan menungguku
berjam mengikuti tes seleksi selama dua hari di Universitas Sriwijaya
Palembang. Berbulan-bulan aku menunggu hasil tes tersebut. Namun hasilnya
membuatku sangat sakit hati. Aku terus mengingat semua hari yang aku lalui
dengan berbagai ejekan dari teman-teman di sekitar rumahku. Mereka selalu saja
meremehkan semua prestasi yang telah aku raih. Bagi mereka, semua itu hanya
kesia-siaan karena akhirnya aku hanya menjadi seorang penjahit, ya seorang
penjahit. Untuk menjadi seorang penjahit tidak perlu bersusah payah mengenyam
pendidikan. Lamunanku terus berlanjut hingga aku lelah berpikir dan akhirnya
terlelap.
Berbulan-bulan telah aku lalui. Uang tabunganku semakin bertambah lantaran aku selalu membeli
kebutuhan saja tanpa menghiraukan keinginan. Aku selalu mengingat nasehat ibu.
Terkadang
kita harus merelakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil demi mendapatkan kebahagiaan
yang amat besar.
“Dina, Dina”
Terdengar suara yang sepertinya tak asing lagi di
telingaku, aku berjalan membuka pintu rumah. Ternyata yang memanggilku adalah
Asti. Aku tersenyum lebar.
“Ada apa, Ti? Silahkan masuk!”
“Din, aku mau minta dijahitkan baju seperti baju yang
kupegang ini” jawab Asti sambil memasuki rumahku.
“Oke, Ti. Baiklah. Bagaimana dengan kuliahmu?”
“Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, oh iya
Din sekarang lagi ada penerimaan di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Kamu
harus mendaftar lantaran semua biaya dan uang saku apabila lulus akan
ditanggung oleh pemerintah.”
“Apa?” Jawabku kaget.
“Aku serius, ini alamatnya. Nanti kamu ke warnet saja.
Kamu harus mendaftar secara online?”
“Baiklah, ayo sekarang ke kamarku dulu. Aku mau
mengukur badanmu.”
Setelah Asti kembali ke rumahnya, aku bergegas pergi
ke warnet. Walau harus aku merelakan uang ratusan ribu demi mendaftarkan diri. Mataku
berbinar-binar ketika kartu tanda peserta STIS telah tercetak. Aku girang bukan
kepalang, lalu kembali ke rumah untuk menjahit baju Asti.
Indah adalah teman yang selalu mendukung setiap
pilihanku. Tentu saja aku menginap di rumahnya untuk mengikuti tes di SD
Methodist 2 Palembang. Hari-hari semakin berlalu. Kali ini aku gagal lagi,
entah kapan aku akan kuliah? Apa memang aku tidak ditakdirkan untuk kuliah? Aku
merasa sangat malu karena selalu menyusahkan Indah.
Aku semakin sering menyisihkan pundi-pundi uang untuk
ditabung. Aku sangat mengidolakan guru Bahasa Inggris ketika aku duduk di
bangku SMA. Aku sangat dekat dengannya dan tak jarang aku meminta pendapat
tentang masalah pribadiku selama di sekolah. Ma’am Leni, ia menasehatiku dan teman-teman supaya bisa
mengharumkan nama sekolah. Aku ingin suatu saat nanti bisa mengajar di sekolah
yang sama dengannya.
Tak ada hasil yang mengkhianati usaha, tak ada doa
yang tidak didengar oleh Yang Maha Kuasa. Puncak kesuksesan akan sangat
bermakna apabila dibangun dari titik nol. Tak akan ada kesuksesan yang dicapai
tanpa melakukan suatu perjuangan. Hinaan dan kegagalan merupakan bumbu yang
memang terdapat di dalam sebuah kemasan kesuksesan.
Aku menjadi lebih tegar, pendidikanku yang sempat
terhenti selama satu tahun merupakan hal yang biasa. Masih banyak orang lain
yang tidak bisa sekolah, bahkan tidak tamat SMA. Aku beruntung bisa sekolah
sampai tingkat SMA.
Kuliah??? Hmm... Aku terlalu larut dalam
kesedihanku sendiri. Di luar sana, masih banyak teman-temanku yang tak bisa
kuliah. Seharusnya aku tak harus berkecil hati. Aku mempunyai pekerjaan yang
bisa menghasilkan uang. Aku bisa makan setiap harinya. Apa aku tak pernah
memperhatikan mereka yang diberitakan kelaparan di dalam televisi yang baru aku
beli itu?
Setelah sekian lama tak melihat televisi, akhirnya aku
bisa mempersembahkan sebuah televisi untuk ibu dan ayahku. Aku merasa
kebahagiaanku sangat lengkap setelah melihat kebahagiaan yang terpancar dari
wajah kedua orang tuaku. Sekarang aku mendapatkan lebih banyak pesanan pakaian
untuk dijahit. Kehidupanku pun mulai berubah. Ayahku yang telah mendapatkan gaji
lima kali lipat dari setahun yang lalu pun semakin mengubah bentuk rumah kami
yang dulu sangat reot itu.
Lagi, kumencoba mendaftarkan diri di Perguruan Tinggi
Negeri melalui jalur SBMPTN. Kali ini aku tidak menyusahkan temanku lagi. Aku
sudah bisa menginap di tempat penginapan, walaupun tak semewah hotel. Hari
sebelum aku mengikuti tes, aku melaksanakan shalat istikharah sebanyak tiga
kali. Aku meminta petunjuk dari Allah karena aku ragu dalam memilih keputusan.
Apakah kuliah di luar kota akan baik bagiku atau tidak?
Kali ini aku tidak lulus lagi, ternyata aku memang
tidak ditakdirkan untuk kuliah jauh-jauh. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali
aku telah datang di salah satu Universitas Swasta yang berada di dekat rumahku.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk pergi ke sana jika ketika aku mengendarai
motor. Semua persyaratan telah aku penuhi dan aku pun diterima di sana.
Satu kata di atas kata gembira dan senang. Entah apa
yang aku rasakan. Aku sangat bersyukur bisa kuliah. Aku yakin kuliah di sini
merupakan jawaban dari Allah. Tempat menimbah ilmu boleh berbeda, namun
kualitas manusia itulah yang menjadi hal yang paling diidam-idamkan oleh semua.
Kumenjalani hari-hari yang penuh dengan kesibukan. Ternyata inilah tugas dari
dosen yang dimaksud oleh Asti.
Bertahun telah berlalu. Setelah wisuda, aku mengajar
di salah satu sekolah yang letaknya tak jauh dari rumahku. Siswa-siswi
berhamburan menuju lapangan untuk mengikuti upacara. Aku merasa beruntung bisa
berbaris di depan siswa-siswi itu. Dahulu, aku pernah berbaris di antara
deretan siswi itu. Upacara pun dimulai dan menghentikanku memikirkan masa lalu.
Aku terlalu serius menyaksikan setiap rangkaian upacara, hingga tak
memperhatikan guru-guru yang juga berbaris memanjang di samping kiri dan
kananku.
Upacara telah usai, aku masih berdiri melihat
siswa-siswi berlari menuju ke kelasnya masing-masing. Di wajah mereka terpancar
banyak keceriaan.
“Dina, dari tadi ma’am
memperhatikanmu”
“A.. Aku, apa ma’am??”
jawabku terkejut melihat ma’am Leni.
Aku tak menyangka ia juga mengajar di sini. Aku sangat
senang. Lalu kami mulai menuju kantor dan berbincang-bincang di sana. Banyak
sekali kisah yang aku ceritakan kepadanya, seolah tiada titik dan koma.
-SELESAI-
RSS Feed
Twitter
April 07, 2022
Seylla
0 komentar:
Posting Komentar