Kamis, 07 April 2022

 

Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 OKU Timur terletak di Jl. Merdeka Cidawang, Martapura.



Krakkk... Jarum mesin jahit menancap di kuku jari telunjukku yang lelah. Darah yang merah pun mulai mengucur bagai tumpahan air wudhu. Aku meniup jari mungil yang malang itu. Hampir saja aku meneteskan air mata di pipi.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, aku tidak boleh lemah. Aku ingin menjadi seorang guru. Butuh jiwa yang kuat untuk menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Kuberlari mencari Betadine. Semua ruangan telah kujelajahi, namun tak kunjung aku menemukannya. Lalu kuputuskan untuk merebahkan tubuh di tikar yang selalu aku rindukan itu. Kutatap kaki yang selalu menghasilkan belasan baju setiap harinya, kaki yang selalu lelah setiap malamnya, kaki yang In sya’ Allah akan mengantarkanku menuju kesuksesan. Seakan tak sanggup lagi untuk menatap, mataku pun mulai terpejam bersama tumpahan darah di jariku.

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Aku sudah bersiap-siap pergi ke pasar untuk membeli benang dan jarum. Selangkah demi selangkah aku menuju pinggir jalan raya untuk menunggu angkot yang mengantar menuju pasar tradisional. Sembari menunggu angkot, aku melamun memikirkan pendidikanku yang harus terhenti karena tiada ada biaya.

Sesungguhnya aku ingin kuliah. Aku ingin menjadi seorang guru. Menjadi guru itu pasti sangat menyenangyakan dan tidak akan merasa kesepian. Akan ada siswa-siswi yang senantiasa mengukir canda dan tawa disetiap hariku.

Tiiinnn... tiiinnn... Suara angkot berhenti tepat di depan mataku, membangunkan lamunan kecil yang bergejolak itu. Aku segera naik tanpa menghiraukan lanjutan lamunanku. Betapa senang hatiku, di dalam angkot aku melihat dua orang teman sekolahku yang penampilannya berubah drastis. Mereka terlihat lebih cantik. Mereka pun sangat senang bertemu denganku.

“Dina, kamu kuliah di mana?” tanya Asti.

“Mmm... Aku tidak kuliah, Ti” jawabku sambil menunduk dan menyembunyikan hati yang mulai tergores.

“Oh kamu tidak kuliah ya, kami sekarang kuliah di Palembang. Kami tinggal bersama di suatu rumah yang disewakan di dekat kampus kami”

“Kalian beruntung sekali bisa kuliah di kampus dan rumah yang sama, pasti seru sekali. Kalian pasti selalu senang.”

“Hahaha... Senang dari Hongkong? Kuliah itu tak sama seperti sekolah. Akan ada tumpukan tugas yang menunggu setiap harinya  membuat kita lupa akan tidur” jawab Yanti.

Aku hanya bisa tersenyum, tak mampu membayangkan seperti apa tugas yang mereka dapatkan. Tiba-tiba angkot pun berhenti di terminal, semua penumpang pun turun secara tertib. Kedua temanku yang cantik itu tersenyum padaku dan mulai melangkah cepat seakan-akan sedang dikejar waktu. Tak mau terlihat berbeda dari mereka, aku pun berlari menuju toko tujuanku.

Tatkala cuaca mulai terik. Aku pergi ke kamar untuk menyusun baju-baju yang telah aku jahit lalu menyusunnya di dalam kantong plastik berwarna hitam. Baju itu harus aku antarkan ke rumah pemiliknya hari ini juga. Setelah selesai, sambil tersenyum merasa lega aku memeriksa saku celana. Dan betapa terkejutnya aku ketika menyadari dompet unguku tidak ada. Aku berusaha tetap tenang sambil mencari-cari dompet ungu di sekitar mesin jahitku.

Aku lupa dimana aku meletakkannya? Tadi yang pasti dompet itu ada di kamarku.

Semua sudut kamar telah aku telusuri. Sekarang giliran lemari yang aku tuju, namun dompet ungu tak jua aku temukan. Lalu kuputuskan untuk merebahkan tubuhku di tikar untuk sesaat. Kupandang langit-langit dan semua sisi kamarku. Wajahku seketika menjadi ceria lagi, di bawah lemari aku melihat ada dompetku. Tanpa menunda lagi, aku cepat-cepat mengulurkan tangan ke bawah lemari. Ada banyak sekali benda yang aku dapatkan di bawah lemari itu. Tak hanya dompet dan debu, bahkan gulungan benang yang belum terpakai, kertas, dan sisa-sisa kain juga aku ambil. Aku meletakkan gulungan benang dan kertas itu di atas tempat tidurku. Sementara sisa-sisa kain langsung kubuang di kotak sampah. Setelah membersihkannya, aku bergegas menunggu angkot untuk mengantarkan baju kepada pemiliknya.

Setelah pulang, perutku merasa lapar. Aku pergi ke dapur dan mulai memakan masakan ibuku. Ibu sangat memahami cita-citaku. Setiap hari aku sibuk mencari uang untuk bisa kuliah. Namun, ibu tak pernah mengeluh walau aku jarang membantunya untuk menyiapkan makanan.

“Nak, ibu selalu berdoa agar kamu bisa meraih cita-citamu. Jangan pernah merasa putus asa. Terkadang kita harus merelakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil demi mendapatkan kebahagiaan yang amat besar.”

“Terima kasih, Bu” jawabku sambil tersenyum lebar.

Tumpukan kain berwarna-warni menghiasi lantai kamarku. Aku melanjutkan pekerjaanku dengan senang hati. Siang dan malam aku menggoyangkan kaki kecilku demi bisa kuliah. Sebenarnya aku merasa sangat kecewa pada diriku sendiri. Sejak duduk di bangku SD, aku selalu mendapatkan juara. Bahkan ketika duduk di bangku SMP dan SMA pun selalu menjadi juara umum di sekolahku. Uang beasiswa yang selalu aku terima seolah menjadi bukti betapa layaknya aku untuk selalu melanjutkan pendidikan.

Tatkala malam telah tiba, hujan yang rintik-rintik mempersembahkan suara khas dari atap rumahku. Suara katak saling bersahut-sahutan memanggil hujan. Kakiku sepertinya sudah tak sanggup untuk digerakkan, tapi tetap saja aku melangkah menuju jendela. Aku penasaran ingin melihat keadaan di luar kamarku. Jendela kayu yang berlobang karena rayap kubuka secara hati-hati. Wuuuussshhh... Angin malam menerpa wajahu dan sekejap menghilangkan rasa lelah dan kantukku. Kulihat tanah yang becek dan kuhirup udara basah. Sepertinya malam ini akan turun hujan lebat. Kilat-kilat mulai menyambar membuatku segera menutup jendela itu.

Mata ini mulai mengantuk, aku pun berbaring. Ada sesuatu benda yang membuat kepalaku terasa sakit. Ternyata gulungan benang dan sejumlah lipatan-lipatan kertas kusam. Aku menyimpan gulungan benang itu di dalam laci mesin jahitku. Kemudian aku berbaring lagi dan mulai membuka lipatan-lipatan  dari secarik kertas.

 

Entah apa yang bisa aku lalukan selain menangis.

Aku kesal, aku benci, aku kecewa.

Mengapa aku tidak lulus SNMPTN dan SBMPTN???

Apa  karena aku miskin?

Apa karena tak ada lagi yang bersedia memberikanku beasiswa???

 

Tulisan yang aku tulis beberapa bulan yang lalu itu seolah memaksa untuk mengingat kejadian yang amat menyakitkan hati kecilku. Aku berusaha melupakan kejadian itu. Lalu membuka dua kertas yang lainnya. Kedua kertas itu merupakan kartu SNMPTN dan kartu tanda peserta SBMPTN. Aku tersenyum tertahan dan memejamkan mata tanpa menghiraukan rasa sakit hati yang mulai muncul kembali. Dua jam telah berlalu, aku memang memejamkan mata. Namun aku tidak tidur. Bayang-bayang usaha belajar dan uang ratusan ribu yang aku keluarkan demi mendaftar SBMPTN mulai menghantuiku. Kala itu aku menginap di rumah temanku yang bernama Indah. Dia sangat tulus mengantar dan menungguku berjam mengikuti tes seleksi selama dua hari di Universitas Sriwijaya Palembang. Berbulan-bulan aku menunggu hasil tes tersebut. Namun hasilnya membuatku sangat sakit hati. Aku terus mengingat semua hari yang aku lalui dengan berbagai ejekan dari teman-teman di sekitar rumahku. Mereka selalu saja meremehkan semua prestasi yang telah aku raih. Bagi mereka, semua itu hanya kesia-siaan karena akhirnya aku hanya menjadi seorang penjahit, ya seorang penjahit. Untuk menjadi seorang penjahit tidak perlu bersusah payah mengenyam pendidikan. Lamunanku terus berlanjut hingga aku lelah berpikir dan akhirnya terlelap.

Berbulan-bulan telah aku lalui. Uang tabunganku semakin  bertambah lantaran aku selalu membeli kebutuhan saja tanpa menghiraukan keinginan. Aku selalu mengingat nasehat ibu.

Terkadang kita harus merelakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil demi mendapatkan kebahagiaan yang amat besar.

“Dina, Dina”

Terdengar suara yang sepertinya tak asing lagi di telingaku, aku berjalan membuka pintu rumah. Ternyata yang memanggilku adalah Asti. Aku tersenyum lebar.

“Ada apa, Ti? Silahkan masuk!”

“Din, aku mau minta dijahitkan baju seperti baju yang kupegang ini” jawab Asti sambil memasuki rumahku.

“Oke, Ti. Baiklah. Bagaimana dengan kuliahmu?”

“Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, oh iya Din sekarang lagi ada penerimaan di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Kamu harus mendaftar lantaran semua biaya dan uang saku apabila lulus akan ditanggung oleh pemerintah.”

“Apa?” Jawabku kaget.

“Aku serius, ini alamatnya. Nanti kamu ke warnet saja. Kamu harus mendaftar secara online?”

“Baiklah, ayo sekarang ke kamarku dulu. Aku mau mengukur badanmu.”

Setelah Asti kembali ke rumahnya, aku bergegas pergi ke warnet. Walau harus aku merelakan uang ratusan ribu demi mendaftarkan diri. Mataku berbinar-binar ketika kartu tanda peserta STIS telah tercetak. Aku girang bukan kepalang, lalu kembali ke rumah untuk menjahit baju Asti.

Indah adalah teman yang selalu mendukung setiap pilihanku. Tentu saja aku menginap di rumahnya untuk mengikuti tes di SD Methodist 2 Palembang. Hari-hari semakin berlalu. Kali ini aku gagal lagi, entah kapan aku akan kuliah? Apa memang aku tidak ditakdirkan untuk kuliah? Aku merasa sangat malu karena selalu menyusahkan Indah.

Aku semakin sering menyisihkan pundi-pundi uang untuk ditabung. Aku sangat mengidolakan guru Bahasa Inggris ketika aku duduk di bangku SMA. Aku sangat dekat dengannya dan tak jarang aku meminta pendapat tentang masalah pribadiku selama di sekolah. Ma’am Leni, ia menasehatiku dan teman-teman supaya bisa mengharumkan nama sekolah. Aku ingin suatu saat nanti bisa mengajar di sekolah yang sama dengannya.

Tak ada hasil yang mengkhianati usaha, tak ada doa yang tidak didengar oleh Yang Maha Kuasa. Puncak kesuksesan akan sangat bermakna apabila dibangun dari titik nol. Tak akan ada kesuksesan yang dicapai tanpa melakukan suatu perjuangan. Hinaan dan kegagalan merupakan bumbu yang memang terdapat di dalam sebuah kemasan kesuksesan.

Aku menjadi lebih tegar, pendidikanku yang sempat terhenti selama satu tahun merupakan hal yang biasa. Masih banyak orang lain yang tidak bisa sekolah, bahkan tidak tamat SMA. Aku beruntung bisa sekolah sampai tingkat SMA.

 Kuliah??? Hmm... Aku terlalu larut dalam kesedihanku sendiri. Di luar sana, masih banyak teman-temanku yang tak bisa kuliah. Seharusnya aku tak harus berkecil hati. Aku mempunyai pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Aku bisa makan setiap harinya. Apa aku tak pernah memperhatikan mereka yang diberitakan kelaparan di dalam televisi yang baru aku beli itu?

Setelah sekian lama tak melihat televisi, akhirnya aku bisa mempersembahkan sebuah televisi untuk ibu dan ayahku. Aku merasa kebahagiaanku sangat lengkap setelah melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua orang tuaku. Sekarang aku mendapatkan lebih banyak pesanan pakaian untuk dijahit. Kehidupanku pun mulai berubah. Ayahku yang telah mendapatkan gaji lima kali lipat dari setahun yang lalu pun semakin mengubah bentuk rumah kami yang dulu sangat reot itu.

Lagi, kumencoba mendaftarkan diri di Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur SBMPTN. Kali ini aku tidak menyusahkan temanku lagi. Aku sudah bisa menginap di tempat penginapan, walaupun tak semewah hotel. Hari sebelum aku mengikuti tes, aku melaksanakan shalat istikharah sebanyak tiga kali. Aku meminta petunjuk dari Allah karena aku ragu dalam memilih keputusan. Apakah kuliah di luar kota akan baik bagiku atau tidak?

Kali ini aku tidak lulus lagi, ternyata aku memang tidak ditakdirkan untuk kuliah jauh-jauh. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku telah datang di salah satu Universitas Swasta yang berada di dekat rumahku. Butuh waktu tiga puluh menit untuk pergi ke sana jika ketika aku mengendarai motor. Semua persyaratan telah aku penuhi dan aku pun diterima di sana.

Satu kata di atas kata gembira dan senang. Entah apa yang aku rasakan. Aku sangat bersyukur bisa kuliah. Aku yakin kuliah di sini merupakan jawaban dari Allah. Tempat menimbah ilmu boleh berbeda, namun kualitas manusia itulah yang menjadi hal yang paling diidam-idamkan oleh semua. Kumenjalani hari-hari yang penuh dengan kesibukan. Ternyata inilah tugas dari dosen yang dimaksud oleh Asti.

Bertahun telah berlalu. Setelah wisuda, aku mengajar di salah satu sekolah yang letaknya tak jauh dari rumahku. Siswa-siswi berhamburan menuju lapangan untuk mengikuti upacara. Aku merasa beruntung bisa berbaris di depan siswa-siswi itu. Dahulu, aku pernah berbaris di antara deretan siswi itu. Upacara pun dimulai dan menghentikanku memikirkan masa lalu. Aku terlalu serius menyaksikan setiap rangkaian upacara, hingga tak memperhatikan guru-guru yang juga berbaris memanjang di samping kiri dan kananku.

Upacara telah usai, aku masih berdiri melihat siswa-siswi berlari menuju ke kelasnya masing-masing. Di wajah mereka terpancar banyak keceriaan.

“Dina, dari tadi ma’am memperhatikanmu”

“A.. Aku, apa ma’am??” jawabku terkejut melihat ma’am Leni.

Aku tak menyangka ia juga mengajar di sini. Aku sangat senang. Lalu kami mulai menuju kantor dan berbincang-bincang di sana. Banyak sekali kisah yang aku ceritakan kepadanya, seolah tiada titik dan koma.

 

-SELESAI-